Selain menjadi ungkapan makna pergaulan, sebagian masyarakat
Indonesia meyakini tumbuhan Kelor mampu meluruhkan 'kesaktian' seseorang. Dalam laporannya, pada Minggu (7/1/2019) The Guardian, menyebut
tanaman ini sebagai 'Miracle
Tree, alias 'pohon ajaib,.
“(Pohon kelor)
seluruh bagiannya bisa dimakan, mulai dari akar sampai kulit kayunya, tumbuh
dengan cepat dan tahan kekeringan, dengan benih yang dapat menjernihkan air,
ini adalah sumber berharga di banyak tempat, yang oleh Organisasi Pangan dan
Pertanian PBB disebut sebagai ‘hasil panen bulan ini’,” tulisnya.
Tanaman bernama latin Moringa
Oleifera ini tergolong tanaman tahunan yang biasanya tumbuh liar.
Tumbuhan ini diduga asli dari kawasan barat pegunungan
Himalaya dan India, kemudian menyebar hingga ke Benua Afrika dan Asia-Barat. Di
Jawa, kelor biasa tumbuh hingga di ketinggian 300 m di atas permukaan laut.
Tanaman ini sanggup tumbuh di kawasan tropik yang lembap
juga di daerah panas, bahkan tanah kering, karena tidak rakus 'makan' pupuk atau
unsur hara.
Karenanya, kelor cocok sebagai tumbuhan 'pioner' untuk
penghijauan dan pemulihan tanah gersang. Di lahan kebun, tanaman kelor biasa
digunakan sebagai pagar hidup. Pokok batangnya yang sedikit membengkok dan bercabang, bermanfaat
sebagai pohon pendukung untuk tanaman merambat, seperti sirih atau lada.
Cara menanamnya sangat mudah, cukup menancapkan setekan
batang atau menyemai bijinya yang sudah tua, akan tumbuh tanaman baru. Kelor tergolong cepat besar alias bongsor, yang tingginya bisa
mencapai 3 m. Bahkan bila dibiarkan bisa mencapai 8 – 12 m.
Tanaman multifungsi
Hampir tiap bagian tanaman kelor dapat dimanfaatkan,
termasuk akarnya. Bisa sebagai bahan kertas, bahan kosmetik, bahan minyak
pelumas, obat tradisional, dan sebagai sumber pangan.
Bunga kelor dapat dimasak, dan penyedia nektar bagi lebah
madu. Masyarakat kita, daun, bunga, dan buah kelor muda biasanya dimasak sayur
bobor atau sayur bening. Rasanya Sedap, ada sedikit rasa pahitnya.
Di India, buah kelor dimasak kari dan diawetkan dalam kaleng
untuk dijual di supermarket.
Menurut laporan Michael
D. Benge, dari Badan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi AS, di Washington DC,
tahun 1987, daun kelor memiliki kadar vitamin A dan C yang tinggi.
Selain itu, daun kelor juga dikenal kaya kalsium (Ca) dan
zat besi (Fe). Juga sumber fosfor yang baik. Buah mudanya berkadar air tinggi
dan kandungan proteinnya tinggi.
Meskipun daun kelor mengandung zat besi tingkat tinggi,
sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Federation of American Societies for Experimental Biology menemukan
bahwa bioavailabilitasnya (jumlah yang memasuki sirkulasi tubuh) sangat rendah.
Sebenarnya, kandungan asam
phytic-nya, nampaknya sangat
menghambat penyerapan zat besi yang ada pada komponen makanan lainnya”.
Dari jurnal tersebut juga dikatakan bahwa kualitas
anti-inflamasi dari ekstrak daun kelor, mungkin lebih manjur daripada madu dan
kunyit.
Biji buahnya yang tua dan kering menyimpan kadar minyak
(lemak) nabati 25 – 40%. Komposisi asam lemaknya meliputi, asam oleat, asam
linoleat, asam eiokosanoat, asam palmitat, asam stearat, asam arakhidat, dan
lainnya.
Kalau daun dan buah mudanya dapat langsung disayur, biji
kelor tua bisa untuk bahan baku pembuatan obat dan kosmetika.
Minyak pelumas yang digunakan oleh tukang arloji pun bisa
diproduksi dari biji kelor.
Bukan hal baru bila daun kelor dimanfaatkan sebagai tanaman
obat, seperti berikut ini pemanfaatannya.
Mempercepat penyembuhan luka. Daun kelor ditumbuk halus lalu
ditorehkan pada luka. Ini karena kelor mengandung semacam zat antibiotik.
Penurun panas akibat demam. Daun kelor ditumbuh lalu
digunakan sebagai obat kompres.
Obat beri-beri dan bengkak. Daun kelor dicampur bersama
kulit akar pepaya, kemudian dihaluskan, digunakan seabgai obat luar (bobok).
Obat kulit. Daun kelor ditambah kapur sirih, bisa untuk
penyakit kurap dan sejenisnya.
Air rebusan akarnya konon ampuh untuk obat rematik, epilepsi,
antiskorbut, diuretikum, hingga obat kencing nanah. Juga pengobatan malaria,
mengurangi rasa sakit, dan menurunkan tekanan darah tinggi.
Daun kelor juga bisa dipakai untuk penurun tekanan darah
tinggi, diare, kencing manis, dan penyakit jantung.
Sakit kepala dan rematik. Akar kelor secukupnya dicampur
dengan air, kemudian ditumbuk hingga berbentuk pasa. Oleskan pada pelipis dan
belakang telinga. Pada penderita rematik, oleskan pasta tersebut pada bagian
yang terasa nyeri. Diborehkan 3x sehari. Malahan, kalangan masyarakat tertentu memanfaatkan daun
kelor untuk mengobati mata ayam yang terluka sehabis bertarung.
Satu-dua tetes getah kelor untuk mempercepat penyembuhan
lukanya.
Bahkan, mata kambing yang belekan dan rabun pun bisa normal
setelah ditetesi getah kelor yang berwarna kuning itu.
Penjernih Air
Publikasi New
Scientist (Desember 1983), biji kelor digunakan untuk menjernihkan air
sungai keruh berlumpur di Sudan dan Peru. Biji kelor juga memiliki kemampuan
antibakteri.
Bahkan Jurusan Teknik Lingkungan ITB dan Fakultas Kehutanan
Universitas Mulawarman di Samarinda pun menggunakannya untuk menjernihkan air
permukaan (sungai, danau, kolam).
Biji kelor juga dimanfaatkan sebagai bahan koagulan
(bioflokulan) dalam proses pengolahan limbah cair pabrik tekstil.
Biji kelor ini mengandung zat aktif
rhamnosyloxy-benzilisothiocyanate, yang mampu mengabsorbsi dan menetralisir
partikel-partikel lumpur serta logam dalam air limbah atau air keruh.
Sekalipun air keruh kecokelatan penuh partikel lumpur bisa
menjadi jernih dan layak dikonsumsi berkat biji kelor.
Meski aroma khas kelor masih terasa. Namun, dengan
menambahkan butiran arang (sebaiknya dibungkus kain supaya tidak bertebaran) ke
dalam bak penampungan air akan menyerap aroma langu kelor.
Menangkal Black
Magic
Di sebagian kalangan masyarakat di Jawa, tanaman kelor sering digunakan
sebagai campuran air untuk memandikan jenazah.
Ini dimaksudkan untuk membuang ajimat yang masih melekat
pada jasadnya.
Manfaat lain dari tanaman kelor, masih menurut kepercayaan
tertentu, bisa sebagai penangkal kekuatan magis, ilmu hitam atau guna-guna,
serta ajimat kesaktian.
Caranya, cukup dengan mengibas-ibaskan setangkau daun kelor ke bagian muka korban.
Atau air rendaman kelor disiramkan
ke sekujur tubuhnya.
Konon, bersama bahan-bahan lain, seperti pala, bawang merah,
bawang putih, dan lainnya, kelor bisa
dibuat bedak pupuk untuk sarana mengobati orang kurang waras.
Termasuk orang yang kesurupan akan kembali “waras”.
source https://intisari.grid.id/read/03998456/sudah-lama-dimanfaatkan-di-indonesia-kelor-baru-bikin-heboh-as-hingga-disebut-pohon-ajaib?page=all

No comments:
Post a Comment